Mantra Stay Positive (edisi ngoceh part 2)
Buat
gue kesehatan mental itu sebenernya penting banget, karena setiap tahun ada 1
dari 4 orang yang mengalami gangguan kesehatan mental. Sayangnya isu kesehatan
mental masih dianggap sepele, terutama dilingkungan gue sendiri. Kalau ada
orang yang depresi dibilangnya tuh dia lemah lah, kurang deket sama tuhannya,
bahkan sampai disuruh melakukan ruqyah atau pembersihan diri. Padahal kita kan
gatau nih seberat apa beban yang orang tersebut pikul.
Alih-alih
mencarikan solusi ternyata kita malah membiasakan diri masuk kedalam Toxic Positivity. Gue pernah ngalamin
kejadian dimana gue lagi ada masalah lalu curhat ke temen, dan temen gue
menanggapi curhatan gue dengan :
“yaudahlah gapapa ntar juga lupa sama masalah ini”
“masalah lo tuh belum ada apa-apanya, coba liat si
anu masalahnya lebih dari lo”
“gue juga pernah ngalamin itu, tapi gue tetap stay
positive”
“coba lebih bersyukur deh, adaloh orang yang punya
masalah lebih dari lo”
“lo terlalu lemah, makannya lo harus kuat”
“sabar ya, biar tuhan yang bales”
gue
juga pernah kok ada diposisi menanggapi curhatan temen gue dengan
kalimat-kalimat yang katanya positive kayak diatas. Ada yang pernah kayak gue
juga?
Sebenarnya,
gue merasa bersalah saat menanggapi curhatan temen-temen gue menggunakan
kalimat diatas, harusnya gue bisa jadi pendengar yang baik bukan malah
terbelenggu dengan toxic positivity.
Menurut
gue, saat kita memberikan nasihat untuk selalu berpikir positif justru akan
membuat seseorang merasa takut, sedih, sakit dan merasa sendiri. Terus-terusan
mencoba untuk selalu berpikir positif sehingga tidak realistis malahan akan
menjadi racun dan terasa palsu bagi orang tersebut.
Perasaan-perasaan
negative yang kita rasain tuh ternyata nggak selamanya buruk loh malah buat gue
ketika kita jujur sama diri kita sendiri atas apa yang kita rasain entah itu
marah,sedih,kecewa bikin kita jadi tau gimana kita harus merespon perasaan dan
keadaan saat itu. Gue juga jadi lebih tau bantuan apasih yang gue butuhin untuk
menjaga kesehatan mental gue.
Menyangkal
perasaan diri sendiri itu ternyata nggak sehat, pura-pura selalu happy atau
always stay positive tuh malah buat gue merasa tertekan dan masalah yang sedang
dialami tuh nggak akan kelar malah makin parah, karena setiap gue dihadapkan
sama masalah gue harus mengubur dalam-dalam perasaan negative gue. Karena
katanya kita nggak boleh negative harus always positive. Padahal mengakui,
membuktikan dan memberi perhatian pada emosi kita sebenarnya adalah tindakan
cinta diri dan cara bagi kita untuk berubah.
Nah,
mulai sekarang kalau lagi kesel, kecewa sama keadaan/sesuatu/seseorang terus
marah dan sedih ya gapapa, itu normal dan nggak salah. Memiliki emosi negative nggak membuat kita, gue ataupun lo menjadi
orang yang negative kok.
Titip
satu lagi nih, kalau kita lagi dicurhatin temen please stop memberikan mantra stay positive karena toxic positivity
yang lo kasih ke temen lo itu sebenernya nggak membuat masalah dia jadi kelar,
lebih baik kita jadi pendengar yang baik atau ganti mantra stay positive lo
jadi :
“Kamu
tidak sendiri, boleh aku bantu kamu ?”
“Hay i'm
here, aku siap jadi pendengarmu. You are not alone i'm in here be with you. Let
me help you”
Harapan
gue, semoga kita menjadi manusia yang tidak hanya perduli dengan kesehatan
fisik tapi juga kesehatan mental kita.
Terima
kasih sudah membaca, gue harap tulisan gue bermanfaat ya.
Silahkan
komentar jika ada kritik atau saran.

bagus ka, next req toxic relationship donggg
BalasHapushalo jen! terimakasih sudah membaca tulisan ini, request mu akan aku tampung ya(:
Hapus